About superriska

Daddy's darling daughter :D

Catatan Bahasa Indonesia

saya-bangga-menggunakan-bahasa-indonesia.png

Kategori baru di blog  ini terinspirasi dari buku Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer yang baru-baru ini kubaca. Membaca karya-karya Pram membuatku banyak berpikir, merenung, dan berefleksi tentang negeri ini dan peranku sebagai salah satu anak kecilnya. Roman sejarah yang dituliskan Pram dalam bentuk tetralogi ini banyak bagiannya yang menusuk, menuduh, dan menampar wajahku secara terang-terangan. Perjalanan tokoh Minke, tokoh utama dalam tetralogi Buru ini, khususnya dalam buku Anak Semua Bangsa, kurang lebih merefleksikan juga perjalananku sebagai anak negeri ini.

Minke yang adalah seorang anak dan cucu dari seorang bupati pada masa itu memperoleh hak istimewa untuk bersekolah di sekolah H.B.S Hoogere Burgerschool. Tidak seperti anak-anak lain seusianya, Minke bisa dibilang beruntung, bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan Eropa. Hanya segelintir pribumi saja yang memperoleh keistimewaan untuk bisa bersekolah di HBS, itu sebabnya mengapa Minke sangat beruntung. Sekolah HBS sendiri kalau pada saat ini setara dengan SMP dan SMA, masa sekolahnya sendiri 5 tahun lamanya. Guru-gurunya orang-orang Belanda dan Eropa, teman-teman sekolahnya anak-anak Eropa dan keturunan Eropa, kurikulum pelajarannya mumpuni, kebanggaan dan prestisnya tidak usah ditanya lagi, pasti tinggi. Gila, pikirku. Minke ini memperoleh hak yang sederajat dengan anak-anak Eropa pada saat itu! Kalau bukan beruntung, entah apa lagi namanya.

Karena bersekolah di HBS, Minke terbiasa menulis dalam bahasa Belanda, karena guru-gurunya kebanyakan orang Belanda. Bukan hanya Minke terbiasa menulis dalam bahasa Belanda, ia bahkan menjadi salah satu kontributor di salah satu surat kabar pada jaman itu dan memiliki nama pena Max Tollenaar. Orang-orang banyak yang tidak menyangka kalau si Max Tollenaar itu ternyata anak pribumi berkulit coklat dan tanpa setetespun ada darah Eropa mengalir di tubuhnya. Suatu kali ia ditantang sahabatnya, Jean Marais, seorang pelukis buntung asal Perancis untuk mulai menulis dalam Bahasa Melayu. Ditambah lagi, seorang penulis keturunan Belanda, Kommer, ikut dalam percakapannya. Kira-kira begini isi percakapannya:

Jean Marais: “Kau bisa belajar menulis Melayu, Minke.”

Kommer: “Takkan lama, Tuan Minke. Sekali Tuan mulai menulis Melayu, Tuan akan cepat menemukan kunci. Bahwa Tuan mahir berbahasa Belanda memang mengagumkan. Tetapi bahwa Tuan menulis Melayu, bahasa negeri Tuan sendiri, itulah tanda kecintaan Tuan pada negeri dan bangsa sendiri,”

Kommer: “Peduli amat orang Eropa mau baca Melayu atau tidak. Coba, siapa yang mengajak bangsa-bangsa Pribumi bicara kalau bukan pengarang-pengarangnya sendiri seperti Tuan?”

Minke: “Mengapa Tuan menulis Melayu, sedang Tuan bukan Pribumi Hindia? Lebih banyak Eropa daripada Pribumi?”

Kommer: “Lihat, Tuan, keturunan tidak banyak berarti. Kesetiaan pada negeri dan bangsa ini, Tuan. Ini negeri dan bangsaku. Yang Belanda hanya namaku. Tak ada salahnya orang mencintai bangsa dan negeri ini tanpa mesti Pribumi, tanpa berdarah Pribumi pun. Lihat, Tuan, hidup Pribumi sangat sunyi – tidak pernah bicara dengan manusia dan dunia di luar dirinya. Hidupnya berputar siang-malam pada satu sumbu, dalam ruang dan lingkaran yang sama. Sibuk dengan impian sendiri saja. Itu-itu juga. Maafkan.”

Jean Marais: “Minke, aku tak bisa bicara. Anggap suara Tuan Kommer suaraku sendiri. Juga aku mengharap padamu – belum sampaihati aku mengatakan menuntut – bicaralah kau pada bangsamu sendiri. Kau lebih dibutuhkan bangsamu sendiri daripada bangsa apa dan siapa pun. Eropa dan Belanda tanpa kau tidak merasa rugi.”

Percakapan itu menghenyakkan hati dan pikiran Minke. Dan juga hati dan pikiranku sendiri. Seolah-olah aku berada di dalam percakapan itu dan diriku adalah Minke. Minke yang tersinggung dan tertuduh tidak peduli sama bangsa sendiri hanya karena tidak menulis dalam bahasa ibu sendiri.

Kata-kata Jean Marais dan Kommer kupikir-pikir banyak benarnya. Orang-orang pribumiku hidup dalam kesunyian, tidak berbicara dengan dunia luar dan dunia luarpun kalau berbicara mereka tidak mengerti. Lalu aku, anak negeri ini sendiri, begitu tinggi hati dan menolak untuk menulis dan berbicara dalam bahasaku sendiri, kepada sesamaku sendiri. Astaga, keterlaluan!

Kira-kira begitulah awal semua usaha ini dimulai. Aku mau belajar menulis dalam bahasaku, supaya lebih banyak sesamaku yang bisa kusemangati. Aku mau belajar menulis dalam bahasaku, supaya lebih banyak sesamaku yang bisa mengerti. Apa gunanya tulisan yang indah kalau pembacanya tidak mengerti? Keindahannya sebagaimanapun membutakan tidak akan tersampaikan. Sia-sia.

Akan tetapi, dari lubuk hatiku yang terdalam, panggilan yang Tuhan berikan kepadaku lewat pendidikan Bahasa Inggris akan tetap kuperjuangkan. Kenapa? Aku juga rindu lebih banyak anak-anak negeriku bisa mengerti yang di luar bahasanya sendiri. Aku rindu saudara-saudariku bisa mengepakkan sayap yang lebih lebar lagi di kancah dunia ini. Itu mimpiku, aku mau anak-anak negeriku mengenal dan mencintai bahasa ibunya sendiri tanpa lupa memperkaya diri lewat bahasa asing yang mereka kuasai.

Sentul, 18 Maret 2018

Bangga berbahasa Indonesia,

-superriska

Selamat hari Minggu, Indonesiaku!

IMG_20180318_115259

Ini tulisan pertamaku di blog ini yang kutulis dalam bahasa ibuku, Bahasa Indonesia. Maafkan aku, aku tidak begitu fasih menulis dalam bahasaku sendiri, memalukan lebih tepatnya. Tertampar dan terinspirasi dari dua buku pertama dari tetralogi Buru karya Pramoedya yang akhir-akhir ini aku gandrungi, aku rasa aku harus segera memulainya, ya, menulis dalam Bahasa Indonesia.

Matahari Minggu ini hangat dan agak sedikit menyengat. Aku duduk di depan asrama, belum juga ganti baju sepulang dari gereja. Jarang-jarang begini, pikirku. Menikmati udara bebas dan langit yang berwarna biru. Angin bertiup pelan, menyapu perlahan helai-helai dedaunan. Baru aku tersadar, di tempat yang biasanya ramai ini bisa juga teduh dan sunyi begini.

Kupandangi merah-putihku yang mengangkasa di tengah angin dan langit biru. Aku bertanya di dalam hatiku, oh merah putih, sudah berapa banyakkah umurmu? Di dalam sudut hatiku aku merasa sedikit tertuduh, rupanya belum banyak yang kuperbuat untukmu.

Beberapa waktu yang lalu kuperingati hari kelahiranku. Lucunya, umurku dan umurmu angkanya terbalik, 27 dan 72. Dari sekian banyak doaku yang lainnya, di hari itu aku juga berdoa: kiranya hidupku masih lebih lama supaya aku bisa terus bekerja dan berkarya. Untuk sesamaku, untuk bangsaku, untuk Indonesiaku.

Dulu aku bertanya, kenapa juga aku dilahirkan di negeri ini. Negeri yang beratus-ratus tahun lamanya diinjak bangsa lain – jadi jongos terbungkuk-bungkuk diinjak martabatnya. Kalau kubaca dalam sejarah rasanya aku ingin marah. Kalau aku hidup di jaman itu, mungkin aku sudah ikut perang, membela hak-hak sesamaku. Ah, tapi sepertinya nggak mungkin juga, aku bukan dari keturunan priyayi yang punya hak asasi. Palingan aku juga cuman jadi anak desa, nggak tau apa-apa dan mungkin juga hanya bertelanjang dada. Apalagi jaman itu perempuan tidak didengarkan suaranya, desisannya pun tidak ada artinya. Aku jelas bukan siapa-siapa.

Tapi di hari ini, berpuluh-puluh tahun setelah merah-putih bisa berkibar, aku bersyukur bahwa aku dilahirkan di negeri ini dan hidup di jaman ini. Dimana suaraku diapresiasi walaupun aku hanya anak perempuan kemarin sore. Ya, belum sempurna memang sistemnya dan semua-muanya. Tapi setidak-tidaknya aku nggak hanya berakhir jadi nyai-nyai dan bekerja di dapur sampai mati. Aku bisa sekolah dan jadi guru pula. Sebuah hak istimewa yang terlalu mewah untuk diharapkan perempuan-perempuan seusiaku jaman dulu kala. Ah, betapa perempuan kala itu cuma jadi manusia kelas dua! Atau mungkin malah kelas tiga? Ah, entahlah, pokoknya kalau lahir jadi perempuan jaman itu sepertinya tidak ada gunanya kecuali bunting dan produksi anak.

Rasa syukur dalam dadaku terlahir dan hidup di jaman ini menggerakkan hatiku untuk berbuat sesuatu. Ya, karena memang sepertinya aku selama ini cuma numpang hidup, numpang makan dan buang air besar. Dengan sekuat daya upaya aku akan berjuang untukmu, merah-putihku! Sungguh, aku harap aku jangan dulu mati sebelum aku bisa memberi diri dan berkontribusi. Beri aku sedikit waktu untuk membuktikan kata-kataku.

Selamat hari Minggu, Indonesiaku!

Salam hangat dariku, putri kecilmu.

NB: ini tulisanku yang pertama dan akan menyusul yang lain-lainnya.

 

Live in the moment.

9418f5_f4ee735cd7f84e40b465378e0f133e7d_mv2

I am often caught up in the memories of the past and/or carried away by the dreams of the future. I often don’t realize that I can’t go back or go forward since I am stuck here in the present. I miss the memories so bad or I plan the future too much that I forget to live in the moment. I miss out the beautiful things and people right here and right now, too many times.

The good old days are worth remembering and the future needs to be thoroughly planned, but today is the day to live in.

It is great to have memories to be cherished and a future to look forward to, but don’t forget to embrace what today has to offer. Love and serve the people entrusted to you. Do wholeheartedly the work given for you to do. We are not promised tomorrow, so love while you can, serve while you can, live in the moment while you can.

Be thankful for today ❤

-superriska

Twenty Seven.

Before I finally hit 27, I had been contemplating on how I was going to live the rest of my life. I am getting into a critical stage of life called late-twenties, people, the three-O is coming like real soon.

Each time I am near to meeting my birthday, I always think that the end of my life is coming near. Every single year brings me closer to it and I don’t think I have done much. There are dreams to be reached, there are places to be visited, and yes, there are work to be done.

To be honest, I am so afraid of dying young. I don’t fear the pain or anything but I fear that my life passes without me leaving meaning in other people’s lives. I want to live a long life so I can go more places, serve more people, and touch more lives. Time is ticking before the Lord is calling me home. My life is fleeting, I don’t even know about tomorrow. My days are numbered without me even ever knowing how many more days I have left.

I know not a thousand years I am given, I’ll love and serve before it is taken. Though I hope, not when I am only twenty seven.

IMG_20180310_123704

Thank you, Lord, I am twenty-seven and young ❤

-superriska

 

 

Waiting sucks but worry not; pray instead!

Waiting sucks, doesn’t it?

Be it for a friend to come for a meetup or for a grad school’s application decision or for an IELTS result. Whatever it is, we don’t like waiting and once we do have to wait, our hearts go restless. Our natural tendency is that we start to overthink or exaggeratedly worry about what’ll come.

However, there is one excellent response that we can train ourselves to do; pray while we wait. Instead of wait in worry and restless thoughts, we should pray, for the Scripture said:

Phil---_art.jpg

These verses never fail me when I start to worry. So, here is my prayer: may we find peace in our hearts and minds as we wait for anything we are waiting for!

Stay rooted in the Word, people!

Love always ❤

-superriska

Are you plugged in?

get_plugged_in-title-2-still-16x9+(1).jpg

Life is not always like walking in beautiful flowery gardens. It also gets bumpy at times and it can get dark and exhausting. We need a lot of energy to live – not only physically, but also mentally and spiritually. Therefore, brothers and sisters, eat well, go see your friends, and most importantly, stay plugged in the source of life, for he himself said:

“Come to me, all of you who are weary and carry heavy burdens, and I will give you rest. Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle at heart, and you will find rest for your souls. For my yoke is easy to bear, and the burden I give you is light.” -Matthew 11:28-30 (New Living Translation)

Hang in there, friends!

Love always ❤

-superriska

Happy long weekend, people!

5734c0b22cdd3fa719a18f47152025b2--long-weekend-quotes-happy-long-weekend.jpg

It’s Thursday night but I don’t have to go to work tomorrow! Not that I don’t like my work, I just think that it’s good to have a little break every once in a while. Teaching is both fun and draining at the same time so a long weekend is a really nice treat for tired teachers.

I’ll go get my book and get on a train tomorrow to see a friend of mine. No school! Yippie!

What are you guys up to? I hope you’re having a great one!

Love always ❤

-superriska

When Valentine’s day and Ash Wednesday meet in one day.

Both Valentine’s day and Lent season are two things that most people are familiar with. Valentine’s day is explicit with its message about the celebration of love, while Lent in its remembrance of Christ’s suffering is also at the same time talking about a greater love that is overlooked by many.

Valentine’s day has been around for a long time. Although there are many speculations on how it was initiated, people nowadays celebrate it and identify the Valentine’s day as the celebration of love. What kind of love? A romantic love which people celebrate with chocolate, bouquets of flowers, candlelight dinners, or sadly a one-night-stand love in hotel rooms.

At the same time, Lent season starts today. Lent is a season of repentance as a preparation for the coming of Easter Sunday. It is a season when Christians are called to commemorate the suffering of Christ before his death on the cross. It is a forty-day length of reflection and pondering of one’s sins. It starts with Ash Wednesday which is still faithfully observed by the Catholics and some Protestant denominations until today. Ash Wednesday marks the beginning of the journey that leads to the commemoration of the greatest romance: the loving Lord died for his dear people to free them from the slavery of their own sins. Many celebrate it with practicing abstinence of eating certain kinds of foods, fasting, and also giving up things that they really love doing.

Happened to fall on the same day this year, Valentine’s day and Lent speak out one important message to me personally; both represent love – the worldly one and the divine one. There’s nothing wrong with the worldly one and I personally think it is okay to have the longing of the worldly one because even the holy people are struggling with their own desires of being in an intimate one. What’s wrong is that if we love the fleeting one more than the eternal One.

I don’t know which and how you celebrate both Valentine’s day and Ash Wednesday. I don’t even know how you respond to the reality of these two. I am no judge. But here is my prayer, a prayer to me and all other Christian fellows out there; when Valentine’s day and the beginning of Lent meet in one day – may we never lose sight of the greater love; “In this is love, not that we have loved God, but that he loved us and sent his Son to be the propitiation for our sins.” – 1 John 4:10

Love always ❤

-superriska

Thou shall not assume.

“Kirain y*kult mengandung bakteri baik. Eh, malah bikin batuknya balik.” I said to myself earlier this morning.

assume.jpg

I just recovered from a cold and cough two days ago but yesterday I made a bad decision based on my assumption. I drank two tiny bottles of fermented milk after school. I thought it was okay to drink it because I was not sick anymore. I thought. Well, this morning I woke up to a familiar feeling and symptom like before, my throat was itchy! I felt like coughing and guess what, I think I’m getting it again. Great. I asked my nurse friend and she told me that dairy products can actually clog your throats and make cough worse. Oh man, I should’ve asked her earlier! Okay, a lesson learned.

This is just one of the many examples of why we shall never assume. Assumptions are as frail as building a house on sand, people. So, be wise and don’t drink dairy products when you have cough.

Have a great day!

-superriska